Wadah Profesionalisme Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMK Negeri dan Swasta Jakarta Barat 2 Provinsi DKI Jakarta

BAYI-BAYI JALANAN




Siang pekat bergelimangkan kepenatan diantara secercah kendaraan yang berlalu lalang menambah kesan hitam legamnya siang yang terbakar mentari yang sangar, kondektur yang berkoar menandakan suatu kausalitas dalam kebiasaan yang tak lagi geram, jurusan Bekasi—grogol, Batusari—Tanah Abang, Senen—Cimone  dan jurusan lain yang tak henti-henti berlalu lalang, di jembatan penyebrangan yang terbentang diantara Walikota dan sebuah mall.
            Nampak calon penumpang sedang menunggu bus pujaannya yang nampak renta tuk ditumpangi, di sebelah halte dekat tukang otak-otak, nampak seorang lelaki kecil yang terlihat sempoyongan berjalan semesta alam seolah hendak menanggalkan etika yang ada di sekelilingnya. Dia seperti itu  bukan karena dia terlalu banyak minum-minuman keras apalagi nyabu, pakao ganjo nak gayo, atau mengganyang bir merek kucing buduk, tetapi  memang kondisi fisik yang membuatnya demikian. Kausalitas nurani, efektifitas dan jentera pekerjaan utama yang biasa digelutinya yakni mengemis dan siapapun anda akan terkesima—terlihat syahdu bahkan tidak mungkin akan merogoh uang rincingan yang ada di saku tuk diberikan semua padanya. Sebut saja Udin yang tidak lain dan tidak bukan adalah remaja salewang atau orang sering menyebutnya IQ jongkok, memang kurang ajar kalau ada orang yang menyebutnya demikian, kalaulah ditilik mungkin yang menyebutnya begitu adalah orang yang super eror atau mungkin lebih parah dari si Udin karena pada hakikatnya manusia diciptakan sempurna oleh tuhan, biarpun banyak cacat disana-sini tuhan telah menciptakan manusia sebagai insan tersempurna diantara mahluk yang ada. Kalaulah Udin bisa seperti kita tentunya dia akan berdemonstrasi dengan anda-anda di gedung MPR untuk menuntut makan gratis, pendidikan gratis—maaf  salah maksudnya eksistensi gratis seperti artis di mass media yang sering menjadi sorotan publik dengan lika-liku kehidupannya yang  glamour atau akan mencibir kembali perkataan yang telah terlempar dari mulut dermawan anda bahkan tidak mungkin akan mencibir Tuhan karena menciptakannya seperti itu. Sayangnya Udin bukan seperti kita yang telah tua renta bercengkrama dengan kemasdukan keindahan pekerjaan dan material, dia terpaksa mengais rejeki dengan menjadi pengemis karena suatu esensi kehidupan yakni bagaimana caranya bisa menghidupi adik-adik, bapak dan ibunya yang telah senja tuk bekerja. Atau memang hanya Udinlah yang mampu mengais kalbu yang tiris dengan materi. Udin adalah salah satu potret keindahan yang terpedaya oleh kameramen yang hendak menyuntingnya—menjadi  survival aktor laksana Malaikat jibril di pagi hari yang memberikan rejeki bagi manusia yang rajin bangun pagi.
            Tapi tidak demikian bagi parjo, bocah yang meninggalkan bapak–ibunya di kampung tuk berkelana mencari sesuap nasi di sebuah negeri sumbangan renta karena ulah pamannya bangsat yang dengan sengaja mengusirnya hanya karena tak dapat membantu menghasilkan suatu keindahan sesat berupa duit laknat, pamanya sebut saja Lik Parto adalah bandar besar narkoba yang ternyata menjadikannya sebagai kurir, begitu pandirnya pamanya yang telah menjanjikan kepada kedua orangtuanya keindahaan abadi yakni jalur pendidikan yang tamak menggeliat resah. Tapi apalah daya begitu dia datang dan bertandang ke Jakarta dia malah terlempar menjadi manusia slaptis yang hanya tau mengantar makanan pekat yang tak lain dan tak bukan adalah barang haram jadah. Sampai suatu hari ketika dia tanpa sengaja menjatuhkan barang tersebut ke selokan karena terserempet motor bebek yang tak punya mata hati.
Begitu pulang ke rumah dia langsung didamprat dan diinterogasi kemana juntrungannya barang haram tersebut. Dengan polos dia menjawab bahwa barang tersebut telah jatuh ke selokan dan hancur lebur karena memang sangatlah keras motor bebek menghempaskan badan kerempengnya. Tanpa berkata panjang pamannya langsung melayangkan tangannya besarnya ke arah pipi kanan parjo dan mengusir parjo. Terpaksa parjo meninggalkan rumah pamannya dan menggeliat resah mencari suatu keindahan sesaat sampai dia terlempar menjadi pengamen jalanan dan menjelma menjadi penyakit jalanan         di saat siang benderang yang dikelilingi oleh kepulan asap kesedihan menyayat, mereka mencoba tuk menerjang kesombongan para supir dan kondektur.
            Bayi mengajarkan kepada kakek-nenek renta bagaimana harus bersikap manusiawi. Bayi jalanan dengan suara parau yang terkesan mencari sesuap bubur ayam dengan melanglang buana ke sebuah negeri sumbangan. Sang pengasuh berbusana kerdil dengan copel dan gesper yang mengusung suatu penjara, penjara kebangsatan dan memberikan popok kekalutan. Torehan keringat, daki kandas, kulit yang busik menjadi kesan bagi bayi gurita tersebut, kakinya yang banyak dapat menerjang  bus-bus dan angkot. Rincingan receh untuk mengais survival mereka, marka jalan hanya bisa menjadi saksi menangisi kehidupan bayi-bayi itu.

Penulis TERINSPIRASI TUK MENULIS CERPEN INI KARENA MEMANG FAKTANYA DEMIKIAN. DAN CERPEN INI MENJADI JAWABAN ATAS PUISI YANG BERJUDUL Bayi-bayi gurita jalanan
            Dirilis kembali 09 Februari 2005.


Icard Nurjantan adalah bukan nama sebenarnya. Lahir di Jakarta, 19 Juni 1981. Pernah ngeleseh selama 3 tahun di Jogja, penikmat dan pengamat seni. Pernah Bergiat di teater Plonk STIBA Jakarta Internasional, dan tutor sastra pada Forum Lingkar Filsafat dan Sastra KOPLIK Ciputat, bergiat di berbagai LSM. Pernah menjabat menjadi Ketua Senat ABA YPKK-STBA Technocrat 2001-02 dan pernah pula menjabat sebagai pimpred Communicado Press (sebuah wadah penulis muda). Aktif menulis di berbagai surat kabar terkemuka di  Jakarta dan daerah. saat ini mengajar terbang di Universitas Indonusa Esa Unggul dan LP3I Karang Tengah. Saat ini sedang menulis sebuah kumpulan cerpen (ujung-ujungnya besi)

 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BAYI-BAYI JALANAN"

Posting Komentar